Template by:
Free Blog Templates

Senin, 28 Desember 2009

Mulai dari Mana?

[color=#FF0000]

Semakin penting kiranya di masa penuh fitnah semacam ini kita merenung dan berpikir sebelum memulai segala aktifitas dan perjalanan. Tak salah kiranya jika Imam Bukhari rahimahullah di dalam Shahihnya mengatakan bahwa al-’Ilmu qablal qauli wal ‘amali (ilmu sebelum berkata dan berbuat). Sungguh sebuah kalimat nan indah yang ringkas dan padat serta mencerminkan kedalaman ilmu seorang ulama yang berusaha untuk mengajak umat kembali kepada Sunnah yang suci. Hal itu mengingatkan kita akan kandungan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Janganlah kau ikuti segala sesuatu yang kau tak punya ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati itu semua akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. al-Israa’: 36).


Kalau bukan karena pentingnya ilmu maka tentu Allah tidak akan memerintah umat agar bertanya kepada ahlinya ketika mereka tidak memiliki ilmu tentang perkara apa saja. Allah berfirman (yang artinya), “Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui tentang suatu perkara.” (QS. an-Nahl: 43). Demikian pula Allah menyertakan persaksian ahli ilmu dengan persaksian-Nya dan persaksian para malaikat dalam firman-Nya (yang artinya), “Allah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia, demikian juga para malaikat dan orang-orang berilmu pun bersaksi, demi tegaknya keadilan…” (QS. Ali Imran: 18).

Karena sedemikian pentingnya ilmu pula maka seorang da’i manapun tak akan benar pengakuannya sebagai pengikut Nabi jika dia tidak mendasari dakwahnya di atas landasan ilmu dan bashirah dari Rabbnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Inilah jalanku, aku ajak kalian kepada Allah di atas landasan bashirah/ilmu, inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku…” (QS. Yusuf: 108). Karena pentingnya ilmu pula maka syahadat seorang hamba tak akan bernilai di sisi Allah jika tidak dibangun di atas ilmu tentang kandungan maknanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengilmu bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah maka dia akan masuk surga.” (HR. Muslim [26] dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu, lihat Syarh Muslim [2/63-64])

[/color]

0 komentar:

Posting Komentar